Posts

Why International Women's Day?

International Women's Day this year somehow sounded more vocal than it used to be. Perhaps Trump becoming the 45th president is one of the many reasons. My instagram was full of feeds of pictures and videos and quotes of this theme with hashtag #IWD. And even my favorite vegan cafe, Rumah Juliet , was giving special treatment of a heavenly-taste slice of cake to all female customer that day. My director, whom I have been working for almost 4 years, suddenly suggested to give  women workers a half day leave as a compliment. Hmm.. So then this whole atmosphere kind of force me to think of my position of being a woman. Not that I have never thought about it before. Only this time, the thought was more intense. I have to admit that in some situations, I wished I were a man. Things would have been easier. I could travel alone with no worries, I could get married at 40 and no one would bother, I could do whatever I want to do and people would just lightly comment "boys will be...

Me Time

A few days before i go back from China i wandered around the neighborhood and through the Min River. Alone. Wandering alone might be boring for some people, but it has always been a fun activity for me. Being alone while absorbing the nature around me makes my mind and my heart thrilled. I recharge my soul, refresh my thoughts, and i come back fully contented. Some people might not understand what i mean, but that's not the point. The point is to have your own way of finding your serenity. This may be hard to do if you live in big cities and get drawn in daily routine. Perhaps that is why we have annual leave - to escape from everyday routine and have a 'me time'. For me, having a 'me time' not necessarily means i have to take a leave, buckle up and go on an adventure. Staying at home, sitting comfortably at the corner next to a window with a bundle of good books or papers and pen to write with tea or coffee on the side is HEAVEN. I enjoy having deep conversati...

Romantic Doctor, Teacher Kim - Classy Korean Drama

Image
credit: http://asianwiki.com/Romantic_Doctor,_Teacher_Kim Dua tema film seri yang paling saya gemari adalah kriminal dan medis karena keduanya berhubungan erat dengan esensi hidup. Belakangan ini saya kerajingan nonton drama korea sebagai selingan ketika saya bosan dengan film seri kriminal barat seperti Law & Order : Special Victims atau CSI. Nah, seperti yang kita ketahui bersama, drama korea alias drakor identik dengan stereotype yang leyeh-leyeh, melankolis, dramatis dan romantis. Kebanyakan temanya tentang percintaan yang berbau chaebol (konglomerat) yang jatuh cinta dengan orang kere macem kisah Cinderella atau teman masa kecil yang terpisah lalu bertemu kembali dan jatuh cinta dan sejenisnya. Makanya saya ga banyak membahas drakor dan hanya pernah me- review satu drakor dalam sejarah blogging saya, yaitu City Hall yang bertemakan dunia politik dan birokrasi. Baru-baru ini saya menamatkan serial drakor berjudul Romantic Doctor, Teacher Kim (selanjutnya saya si...

Trip to Batu, East Java

Image
Sejak pertengahan 2015, banyak banget instagramers yang posting foto-foto di kota wisata Batu, terutama di Museum Angkut. Jadi penasaran juga pengen lihat seperti apa sih kemajuan pariwisata di kota yang dulunya masih kalah terkenal dibandingkan kota Malang itu. Makanya ketika Ria, yang sekarang berbasis di Surabaya, ngajakin jalan-jalan ke sana bulan Mei lalu, saya langsung setuju. Berhubung beberapa teman lainnya sedang sibuk mengumpulkan pundi-pundi untuk cicilan biaya resepsi, dan hanya saya dan Lidia yang tampaknya hampir menceburkan diri ke kubangan depan rumah karena penat dengan rutinitas (btw kenapa menyinggung 'kubangan' lagi sih, Jox? Haha, entahlah, mungkin saya lelah), jadilah cuma kami bertiga yang cuss ke Batu. Thanks to Ria, saya dan Lidia tinggal terima beres aja. Tiket pesawat dan kereta udah fixed , hotel juga udah fixed , tinggal urus izin mamake dan mohon cuti ke Boss. Beres... Dari Jakarta, saya dan Lidia berangkat ke Surabaya bertemu Ria...

Dengung Stadion

Setiap orang pasti punya aroma khas yang mengingatkannya akan masa kecil atau momen tertentu ataupun orang tertentu. Kadang bisa juga aroma itu membawa kenangan buruk yang membuat sedih, marah atau kesal. Makna yang diciptakan oleh satu aroma yang sama bisa berbeda bagi tiap orang. Demikian juga dengan suara. Suara derit pintu entah kenapa mengingatkan saya akan film horor, dan saya paling ngilu denger suara kuku yang digarukkan ke papan tulis hitam. Ugh. Nah kalau berbicara tentang suara favorit, dengung sorak sorai suporter bercampur suara komentator dan tiupan pluit wasit di stadion adalah favorit saya. Bagaikan aroma masakan restoran yang menggoda selera calon konsumen, saya juga selalu tergoda untuk merapat setiap kali mendengar perpaduan suara pertandingan sepakbola. Misalnya pas pencet-pencet saluran tv dan tiba-tiba denger suara itu, saya akan berhenti sejenak untuk melihat tim mana yang sedang bertanding. Demikian juga kalau di jalan ada yang nyetel tv dan nonton...

Me, Myself and I

Image
I have this tight circle from high school called Dejolimenoris and we've been hanging out ever since. One of the moments we continuously use as an excuse to meet up is birthdays. The person who's having birthday will treat the rest of us, and in exchange, we would give a birthday present. It's been going on for almost a decade until it finally became more like a routine. Finding the perfect birthday present may sometimes wastes time and often still could not fully satisfy the birthday person (it shows in their expression when they open the present). And eating out at a fine dining restaurant these days may become a burden for some of us. So starting from this year, we decided we will not celebrate any birthday and no birthday present will be given. Thus, we only we meet up when we want to. Less frequent but more meaningful. And the first birthday of the year happened to be mine. I didn't feel sad. But I did feel something was off. A few days before my birthday...

Balada Kubangan Berseni

Musim penghujan selalu jadi momok yang menakutkan bagi saya karena, sama dengan Jakartans lainnya yang bergantung pada transportasi umum, sesi berangkat dan pulang kerja jadi ekstra merepotkan. Misalnya tas jadi lebih berat karena bawa payung tiap hari, jalanan becek berlumpur plus air got meluap, halte padat penumpang, nunggu bus lebih lama, macet lebih parah, dan segudang ke-bete-an lainnya. Kadang, saya males banget payungan pas turun hujan, apalagi kalau melewati gang kecil dan banyak motor yang wara-wiri. Ribet. Ujung-ujungnya basah pula. Kalau cuma rintik-rintik atau gerimis kecil, biasanya saya cuma pake tudung jaket atau kerudungan pake kain pashmina. Nah, kalau kerudungan pake pashimna, saya bakal jadi pusat perhatian abang-abang terminal gara-gara " sipit-sipit koq pake kerudung" .  Terus saya sahutin " emangnya GA boleh..?" * tapi dalam hati aja ngomongnya :D Pernah suatu malam, saya pulang kerja setelah hujan deras dan sampai di terminal hujan...