Trip to Batu, East Java


Sejak pertengahan 2015, banyak banget instagramers yang posting foto-foto di kota wisata Batu, terutama di Museum Angkut. Jadi penasaran juga pengen lihat seperti apa sih kemajuan pariwisata di kota yang dulunya masih kalah terkenal dibandingkan kota Malang itu. Makanya ketika Ria, yang sekarang berbasis di Surabaya, ngajakin jalan-jalan ke sana bulan Mei lalu, saya langsung setuju.

Berhubung beberapa teman lainnya sedang sibuk mengumpulkan pundi-pundi untuk cicilan biaya resepsi, dan hanya saya dan Lidia yang tampaknya hampir menceburkan diri ke kubangan depan rumah karena penat dengan rutinitas (btw kenapa menyinggung 'kubangan' lagi sih, Jox? Haha, entahlah, mungkin saya lelah), jadilah cuma kami bertiga yang cuss ke Batu.

Thanks to Ria, saya dan Lidia tinggal terima beres aja. Tiket pesawat dan kereta udah fixed, hotel juga udah fixed, tinggal urus izin mamake dan mohon cuti ke Boss. Beres...

Dari Jakarta, saya dan Lidia berangkat ke Surabaya bertemu Ria, dan dari Surabaya kami naik kereta Penataran menuju Malang. Dari stasiun Malang, kami naik taxi seharga Rp 120.000 menuju Hotel Jatim Park, dan dimulailah petualangan kami.

JATIM PARK 2

Karena katanya Jatim Park 1 lebih diperuntukkan bagi anak-anak sebagai wahana edukatif (dan memang banyak rombongan bocah digiring guru-guru di depan Jatim Park 1) akhirnya kami memutuskan untuk ke Jatim Park 2. Beruntung karena kami menginap di Hotel Jatim Park, kami boleh menumpang gratis shuttle bus dari Jatim Park 1 ke Jatim Park 2 dan sebaliknya.

Di Jatim Park 2, kami cuma mengunjungi Secret Zoo. Di sana terdapat banyak satwa, baik lokal maupun interlokal (salah Jox, harusnya 'internasional', bukan 'interlokal'.. duh..). Kesannya seperti kebun binatang yang udah elevated to the next level. Di dalamnya juga terdapat wahana permainan mirip Genting Highland, makanan yang tersedia cukup memadai, enak dan harganya terjangkau. Kelebihan Jatim Park 2 adalah fasilitas sanitasi yang bersih dan mudah ditemui, juga terdapat tempat duduk untuk beristirahat dan jalur turunan untuk stroller bayi dan kursi roda. Selain itu, lingkungan satwa super bersih dan asri, ada banyak spot untuk foto-foto kalau kebetulan pengunjungnya tidak banyak.


Binturong
Camel ride
Up and Up
with Ria
Ooo.. woaa..

BATU NIGHT SPECTACULAR (BNS)

Konsep BNS mirip banget dengan taman ria, cuma kelebihannya adalah view kota Batu pada malam hari yang bisa dinikmati sambil duduk-duduk dengerin live band atau sembari naik wahana udara seperti Sepeda Udara, Kursi Terbang dll.

Di dekat pintu keluar BNS terdapat banyak kios yang menjual kaos-kaos, suvenir dan jajanan khas Batu. Harganya lumayan terjangkau dan bisa ditawar, tapi hati-hati ketika belanja snack karena ukuran packagingnya menipu sekali, lebih banyak angin daripada isi snack.


"Berteriaklah agar lebih seru"


OMAH KAYU

Belum pernah denger tempat ini sebelumnya kalau bukan karena diajak Ria. Letaknya di Gunung Banyak, pakailah sepatu olahraga atau paling tidak sepatu alas datar karena medannya naik turun dan tekstur tanahnya lunak. Yang membuat tempat ini unik adalah view yang instagrammable, cocok juga untuk prewedding kalau ga takut ketinggian ya..







PARALAYANG GUNUNG BANYAK

Ini highlight trip saya! Sangat saya rekomendasikan.

Memang benar saya takut ketinggian, awalnya saya juga agak jiper karena belum pernah ikut olahraga yang memacu adrenalin semacam itu. Tapi begitu kaki melayang, wuiiiihhh... rasanya bebas lepas dan menyegarkan. Pemandangan Gunung Banyak cukup cantik, pepohonannya masih lebat dan ada hamparan ladang di sekitar landasan.

Kami beruntung angin hari itu bagus, karena denger-denger sehari sebelumnya cuaca tidak mendukung dan tidak ada yang berani terbang. Harga sekali naik adalah Rp 350.000 per orang, cukup masuk akal untuk sebuah olahraga yang butuh instruktur dan peralatan khusus. Sepulang dari sana, saya malah nagih pengen naik lagi, hahaa..

Oya, pengurus Paralayang Gunung Banyak memberikan semacam sertifikat bagi orang-orang yang pernah paralayang di sana, ga bener-bener canggih sih karena mereka udah cetak massal sertifikatnya dan kita sendiri yang tulis nama dan tanggalnya lalu ditandatangan pimpinan tim, tapi lumayanlah untuk kenang-kenangan.
view dari area terjun paralayang
getting ready..


DONE..!
aye, aye, captain..!


MUSEUM ANGKUT

Konsep Museum Angkut adalah memamerkan berbagai replika maupun angkutan asli dari berbagai zaman yang bersifat edukatif dan bernilai sejarah, sekaligus area theme park mirip Universal Studios Singapore. Memang belum secanggih USS, tapi menurut saya sudah cukup rapi dan berkelas.

Kebetulan sore itu ketika kami jalan-jalan di area Broadway, tim Museum Angkut menyuguhkan konvoy angkutan dan pertunjukan flash mob yang seru, bisa ikutan dance ala-ala dugem juga kalau lagi seru-seruan bareng temen (kenapa harus ada temen sih, Jox? Karena kalau ga ada temen, malunya lebih berasa bro.. * ciyeeeh Jojox malu-malu dance-nya.. hahaa)

Makanan di dalam Museum Angkut hanya tersedia makanan dan minuman ringan. Untuk makan berat, bisa melipir ke area food court di lapangan depan Museum Angkut. Jangan khawatir ga bisa masuk lagi, karena selama kita masih pake gelangnya, kita bebas keluar masuk Museum Angkut. Saya pribadi rekomendasi restoran yang bertemakan Cheng Ho di sana karena rasanya oke, penyajiannya cepat dan harganya masuk akal.

Oya, kalau mau bawa kamera khusus (bukan kamera ponsel), ada tarif yang harus dibayar. Kalau ga rela bayar, bisa juga titip di loker yang kuncinya dipegang sendiri oleh empunya kamera, harga penitipan seingat saya Rp 10.000.

Sama seperti Jatim Park 2, area Museum Angkut sangat bersih dan asri, ada cukup banyak bangku untuk istirahat, jalur turunan untuk stroller dan kursi roda, dan staff yang ramah.







 





Nah, itu dia tempat-tempat wisata yang kami kunjungi. Untuk transportasi, rute Jakarta-Surabaya-Jakarta menggunakan pesawat Sriwijaya Rp 747,500. Rute Surabaya-Malang-Surabaya menggunakan kereta api ekonomi Penataran dan Jayabaya. Selama di kota Batu, kebetulan kami kenalan dengan sopir taxi bernama Anang, orangnya menyenangkan dan gaul, bisa dihubungi di nomor 081216009400. Tidak ada transportasi umum menuju Gunung Banyak (Omah Kayu dan Paralayang), jadi kami charter Mas Anang Rp 75.000 per jam (harga per Mei 2016).

Catatan:
* Belum pernah jalan-jalan cuma bertiga dengan Ria dan Lidia, bersyukur perjalanannya menyenangkan dan tidak ada dusta konflik di antara kita ^o^

* Thanks to Ria yang masi sempet mengatur perjalanan ini di tengah kesibukan jadwal Garuda dan menjadi tuan rumah yang superrr baik ketika kami di Surabaya.. muachhh


video credit: Ria

Comments

Popular posts from this blog

Study in Fuzhou - Fujian Normal University

IELTS Writing Task 1

Contoh Soal dan Essay IELTS Writing Task 2

IELTS Writing Task 2

Travel in China : Shanghai 上海 - Hangzhou 杭州

Romantic Doctor, Teacher Kim - Classy Korean Drama

Maling Jemuran

Travel in China : Xi'an 西安 - Huaqing Pool & Terracotta Warriors

Berlatih IELTS Secara Otodidak

Pancoran Membawa Petaka atau Saya yang Sedang Sial...?