Hujan atau Badai..?

Semester ini saya kebagian kuliah hari Sabtu, mata kuliahnya pribahasa dan entrepreneurship. Walaupun jomblo  dan sebenarnya kuliah hari Sabtu ga mengganggu kehidupan percintaan saya tapi tetep aja rasanya ga rela kalau harus kuliah di hari Sabtu. Yang bikin lebih bete adalah kedua mata kuliah itu berlangsung di 2 kampus yang berbeda dengan jeda waktu hanya 20 menit. Praktis saya ga bisa makan siang dan cuma minum jus alpukat buat menghibur perut selama menumpang angkot ke kampus Kijang. Kalau Anda kuliah di binus, Anda pasti paham banget keruwetan pertigaan Syahdan. Belum lagi ada peninggian jalan di depan kampus Kijang yang memaksa angkot untuk putar jalan. Minggu lalu saya dan dua teman saya ketiban sial gara-gara sopir angkotnya ambil jalur ke arah Slipi dan menurunkan kami di tengah jalan. Alhasil kami jalan kaki ke Kijang dan terlambat masuk kelas. Untung masih bisa absen walaupun belakangan, setelah ada segerombol mahasiswa yang baru masuk pas kuliah hanya sisa setengah jam, dosennya bilang dia ga akan terima excuse untuk mahasiswa yang suka terlambat dan menurut beliau masalah peninggian jalan itu adalah real condition. Pokoknya minggu ini kita buru-buru ke Kijang sambil ngoceh soal excuse dan real condition.

Anyway, yang saya mau bahas bukan mengenai kuliahnya karena alhamdulilah baik perjalanan ke kampus Kijang maupun kuliah itu sendiri berjalan lancar (Walaupun kesialan tetep menghampiri teman saya, Vien, yang entah bagaimana meninggalkan 2 buku library, 1 buku catatan dan 1 buku teks pribahasa di toilet perempuan di kampus Anggrek. Untung ada teman yang kos dekat sana yang bisa buru-buru menyelamatkan tuh buku. Thx, Sa!). Sekali lagi, bukan itu yang saya mau bahas, melainkan soal hujan guede yang mengguyur tepat ketika kami selesai kuliah pukul 3 sore kemarin.

vien n lisa
Langit memang udah mendung sejak kami kuliah jam1. Puncaknya terjadi waktu keluar kelas, hujan yang cuma rintik-rintik menggoda tiba-tiba makin deras. Thank God Vien bawa mobil jadi saya bisa nebeng sampe ke jalur yang dilewati Metro Mini 91 dan ga perlu jalan kaki jauh. Saya dan Lisa, yang rumahnya di Poris searah rumah saya, juga ikut nebeng. Tapi bahkan sebelum keluar dari parkiran kampus, kami stuck di depan ticketing gara-gara satu jalur jalan yang menuju kampus Syahdan sedang ditinggikan, jadi protecom (petugas keamanan kampus) membantu mengatur lalu lintas. Saat itulah kami menyadari hujan luar biasa lebat. Menurut Vien yang kemarin juga datang ke kampus untuk latihan nari, hujan yang turun kemarin kurang lebih sama lebatnya dengan hari ini. Padahal kawasan rumah saya di Kalideres hujannya cuma gerimis mengundang. Memang sering kejadian rumah saya hanya kebagian sisa-sisa saja sementara di kawasan lain lebatnya bukan main.

tukang siomay
Saat itu, kami melihat pohon-pohon besar di lingkungan kampus meliuk-liuk ga karuan. Saya sempat mendokumentasikan video gerakan pohon-pohon itu tapi justru pas saya rekam, pohon-pohon itu malah mereda gerakannya, mungkin malu-malu kucing liat kamera. Ada juga spanduk-spanduk yang nyaris terlepas. Singkat kata anginnya seperti badai. Bahkan saat saya memayungi Vien ke mobil beberapa saat sebelumnya, payung saya tak terkendali. Ada juga pedagang siomay yang meraup untung dari hujan ini. Heran juga koq bisa nyiapin kain terpal buat berteduh yah, padahal biasanya tukang siomay ga ada yang bawa-bawa terpal di atas gerobaknya.

taksi yang jeblos
Akhirnya setelah beberapa menit, kami berhasil keluar kampus, itupun diselingi kejadian kurang mengenakkan. Ada sebuah taksi kuning yang saat meluncur di jalan yang sedang ditinggikan, roda depan sebelah kiri terlalu ke kiri padahal bagian itu belum ditinggikan hingga akhirnya taksi itu seolah jeblos tak bergerak.Mudah-mudahan ga kenapa-kenapa. Dalam perjalanan, saya melihat bangunan sederhana yang dibuat dari batang-batang bambu dan kain terpal ambruk ke tanah. Rruaaarrr biasaaa.

Saya dan Lisa turun di halte sebelum jembatan menuju Tg Duren. Saking deres dan kencangnya angin, saya sampai ga sempet buka payung pas turun dari mobil dan langsung lari ke halte. Hanya beberapa detik diguyur hujan tapi sukses bikin basah kuyup. Meskipun sudah berada di dalam halte tapi tetep aja kena hujan gara-gara anginnya yang mengarah ke dalam halte. Duh, mana hari itu saya ga pake jaket lagi, dinginnya sampe bikin dengkul saya gemetaran.

Sampai di komplek rumah saya, hujan sudah reda. Saya merasa cukup puas melihat jalanan becek banget, at least turunnya hujan merata di seluruh wilayah Jakarta. Waktu saya cerita ke mama saya tentang angin yang kaya badai di kampus tadi, mama saya ga percaya lho. Katanya hujannya cuma 'lumayan gede' dan banyak petir. Malamnya, pas mama dan cici saya pulang kondangan, mama saya balik cerita bahwa si sopir taksi menuturkan di wilayah selatan selatan banyak pohon tumbang gara-gara hujan badai tadi sore. Huuu, bener kan apa kata saya..

Hari ini, bahkan ketika saya nulis ini, hujan turun deras banget sejak pukul 12 siang tadi. Kalau di kawasan rumah saya saja hujan deras, apalagi wilayah selatan, pusat, dan kawan-kawan yah....?
request by d driver untuk foto lagi pake blitz
protecom yang setia pada tugas... 2 thumbs up


Comments

ching said…
wakakak ngakak jo, itu nestiny u kasih judul "vien,hujan, dan kawan kawan"
jojox said…
hwahaha... kayana mulai saat ini vien identik dgn ujan dan kawan-kawan yah..

Popular posts from this blog

Study in Fuzhou - Fujian Normal University

IELTS Writing Task 1

Contoh Soal dan Essay IELTS Writing Task 2

IELTS Writing Task 2

Travel in China : Shanghai 上海 - Hangzhou 杭州

Romantic Doctor, Teacher Kim - Classy Korean Drama

Maling Jemuran

Travel in China : Xi'an 西安 - Huaqing Pool & Terracotta Warriors

Berlatih IELTS Secara Otodidak

Pancoran Membawa Petaka atau Saya yang Sedang Sial...?