Solo Traveling : SIMPLICITY

Kali ini saya akan cerita tentang serunya jadi solo traveler, sesuatu yang saya idam-idamkan sejak kecil dan makin membara setelah baca Naked Traveler, dan akhirnya terwujud. Well, sebenarnya ga layak disebut solo traveling seh. Awalnya saya berniat traveling ke Hangzhou sendirian, tapi kayaknya nyokap ga bakal ngijinin. Cece saya bilang, "Kamu bayangin aja, seandainya kamu di Jakarta truz pergi ke Bandung sendirian, emangnya bakal dikasih ijin?" Hmm, bener juga sih.

Akhirnya saya cari akal dan contact temen saya di Suzhou, Juvi. Destination berubah menjadi Suzhou dan Beijing karena Juvi pengen ke Beijing. Ijin pun turun, mama saya bahkan ga nanyaen detail rencana, dia juga ga nanyaen pergi dengan siapa ato temen yang mana, dan hanya menyemangati saya untuk jalan-jalan. Cowo saya bilang, "Of course she will let you go, you're already in China."  Bener juga sih, mama saya ga bakal bisa nahan saya pergi secara saya di Cina dan beliau di Indonesia. Tapi saya ga akan tenang pergi tanpa ijin nyokap. Dan sekarang setelah dapet ijin saya jadi mikir, jangan-jangan kalo saya langsung minta ijin pergi ke Hangzhou sendirian, mungkin dia bakal ngijinin. Jadi untuk apa saya ganti destinasi dan memimpi-mimpikan Hangzhou? Apalagi setelah dihitung-hitung, i'm out of the budget to Beijing.

Rencana pun beralih menjadi Suzhou dan Hangzhou. Tapi kemudian saya ada urusan dengan Tany yang di tanggal 1-3 Februari juga traveling ke Shanghai. Finalnya, jadilah rute saya Fuzhou-Shanghai-Hangzhou-Fuzhou. Belakangan, Tany juga mau pergi ke Hangzhou, dan temen-temen saya juga bakal dateng ke Hangzhou dari Tianjin, termasuk Juvi. Dari Fuzhou ke Shanghai dan selama di Shanghai saya memang sendirian, tapi di hari kedua saya ketemuan dengan Tany dan cabut ke Hangzhou. Meskipun ga bisa dibilang full solo traveler, tapi keseluruhan trip saya yang atur, mulai dari akomodasi dan tempat-tempat yang bakal dikunjungin. Agak deg-deg serrr juga sih coz saya khawatir temen-temen saya bakal complaint mengenai hostel yang ditempatin, ato tempat wisata yang ga sesuai ekspektasi, ato di tengah-tengah perjalanan kesasar, de el el. Anyway, the show must go on. Berbekal kepasrahan dari temen-temen saya :"Kita mah ikut lu aja Jo..", I arranged them and it worked quite well.

Enaknya traveling sendirian adalah semua-muanya terserah kita dan ga perlu kompromi dengan temen jalan kalo ada perubahan. Selain itu, kita jadi lebih fokus dengan diri kita dan apa yang ada di hadapan kita. Plus, kalo beruntung, mungkin dapet temen baru. Setelah saya cerita ke Tany apa aja yang terjadi waktu saya traveling sendirian, dia merasa saya beruntung banget perjalanan saya ga boring kaya dia. Haha, well, I guess I'm just a lucky bastard.

Di hari pertama trip, setelah nunggu lama di halte bus, saya sampe pada dugaan bahwa busnya belum beroperasi sepagi itu. Karena takut ketinggalan kereta, saya pun nyari taksi. Eh, ternyata sopir taksinya gokil. Umurnya sekitar awal 40an dan doyan ngomong. Setelah tahu saya bukan orang Cina, dia nanya banyak tentang situasi di negara saya dan membandingkannya dengan keadaan di Cina.

Topik yang paling menarik, of course, tentang percintaan. Awalnya sih dia nanya tentang orang Indonesia apakah pada bisa bahasa Inggris karena dia pengen belajar bahasa Inggris. Truz dia nanya saya udah married belum. Saya jelasin kalo saya mahasiswa di Fujian Normal University dan belum married. Dia nanya lagi, orang-orang Indonesia nikahnya cepet ga? Saya bilang ga tentu. Truz pacarannya mulai dari umur berapa? Jawaban saya sama, ga tentu. Truz dia gregetan dan nanya, ga tentu itu maksudnya kaya gimana? Saya bilang ada temen-temen saya yang mulai pacaran pas middle school, tapi saya sendiri baru mulai pacaran di sini. Dia nanya dengan orang mana saya pacaran. Saya jawab USA. Dia nanya menurut saya lebih baik cowo Cina ato cowo barat. Belum sempet saya jawab, dia udah ngejawab sendiri, pasti cowo barat karena kamu kan pacaran dengan orang barat. Saya cuma bisa ngakak. Dia nanya lagi saya lebih milih cowo kaya ato miskin. Saya bilang, saya milih yang biasa aja, ga kaya dan ga miskin, cukup untuk hidup aja. Tapi dia ga puas dengan jawaban saya. Saya tambahin lagi, mama saya pernah berpesan ada 3 hal yang harus dihindari waktu cari cowo: jangan cari yang terlalu ganteng,  yang kedudukannya terlalu tinggi, atau yang punya banyak uang. Kali ini, topik beralih ke kehidupan dia.

Dia cerita dulu dia masuk militer dengan kelas berisi 10 orang dan isinya cowo semua (ya iyalahh..) dan ga ada kehidupan percintaan di sana. Ada salah satu temennya yang udah married and turned out istrinya kurang puas dengan keadaan suaminya itu dan pengen nyari yang kedudukannya lebih tinggi. They got divorced and the wife remarried with someone she thought was better than her previous husband, but still, she doesn't feel satisfied. Makanya dia penasaran dengan tanggapan saya mengenai kaya dan miskin. Dia juga bilang, dari 10 orang di kelasnya, ada 8 orang yang cerai. Saya kaget, saya ga nyangka orang Cina yang lahir di angkatan 70an rasanya jarang banget ada kasus perceraian, apalagi di Cina yang budayanya lebih kental dan aturan pernikahannya lebih ketat. Saya bilang di Indonesia, perceraian akan membuat keluarga malu, jadi rasanya jarang orang bercerai. Dia bilang begini: "中国人不像西方人开放,中国人是乱开放。" Artinya, orang Cina ga kaya orang barat yang pemikirannya terbuka, orang Cina pemikirannya terbuka tanpa aturan. Haha, I think he's got a nice quote. Dan saya pun sampe di 福州南站 a.k.a Fuzhou South Station dan kami berpisah.

Di kereta, saya juga ga berharap bakal dapet temen ngobrol yang asik. Saya udah persiapan dengan MP3 di handphone dan novel To the Lighthouse sebagai ransum dalam 7 jam perjalanan kereta. To my surprise, saya kebagian tempat duduk di gerbong yang berbentuk 软卧, which means dalam bentuk kompartemen berisi 4 tempat tidur tingkat. Gerbongnya bagus dan bersih, tapi karena kompartemen saya deket toilet, alhasil ditemenin bau pesing deh. Seharusnya satu gerbong diisi 6 orang, tapi kompartemen saya cuma ada 4 orang: 2 orang couple yang hot and cold, sebentar mesra sebentar tendang-tendangan; mahasiswa Shanghai asal Changzhou, salah satu kota di Provinsi Fujian, dan saya.

Nah, gara-gara pemeriksaan tiket, saya pun akhirnya kenalan dengan mahasiswa itu. Dia anak bungsu dan punya 3 kakak perempuan, yang of course bikin dia jadi anak kesayangan di rumah. Penampilannya ga kaya cowo Cina kebanyakan yang banyak gaya dan norak. Dari cara bicaranya menurut saya dia cukup cerdas, bukan hanya di bidang akademik tapi cerdas secara pengetahuan umum. Kelihatan dari pemilihan kata dan pandangan-pandangannya. Dia juga nawarin kue bolu panggang homemade buatan kakaknya yang enak banget.

Lucunya adalah, ada suatu saat ketika dia balik dari luar kompartemen, dia keliatan kaya nyari-nyari sesuatu yang hilang. Saya tanya kenapa, dia minta tolong saya telepon handphonenya. Ternyata ada di saku depan jaketnya. Setelah ketemu, saya lanjut makan roti, tapi saya tahu dia sempet ngelirik saya. Trus dia berbasa-basi, nanya nomor saya nomor Fuzhou ya? Nomor China Mobile yah? Bukannya China Telecom lebih murah ya? Hmmm, saya jadi curiga yang tadi itu beneran nyari handphonenya yang ilang ato cuma cara untuk dapet nomor saya yah..? Apalagi pas nunggu MRT bareng, waktu kita ngobrol, dia sempet bilang, "Yang tadi itu nomor saya, kalo ada apa-apa hubungin aja." Pas saya cerita ke Tany, saya ga bilang kalo saya curiga the whole cellphone thing was just acting, but surprisingly, Tany bilang begini, "Wah, sekarang gue tau cara baru minta nomor hp: pura-pura handphonenya ilang." Hahaha, ya ampun ternyata bukan saya doang yang mikir githu, kirain saya aja yang kege-eran.


Setelah nyampe hostel, taro tas dan pergi makan, saya jalan ke The Bund. Saya pengen foto-foto bangunan-bangunan tua di sana dan gedung Dongfang Mingzhu Ta dari seberang sungai, tapi berhubung kamera handphone saya ga bagus di malam hari, jadi saya cuma jalan-jalan aja di sepanjang pinggir sungai. Pengen naik perahu keliling The Bund tapi udah berhenti beroperasi, sementara kapal yang sedang berlayar keliatannya muahal karena lebih besar dan mewah.

Di sana saya ketemu Masha, cewe asal Estonia yang juga sendirian dan minta tolong difoto dengan background Dongfang Mingzhu Ta. Dengan baik hati dia juga fotoin saya dengan kameranya dan janji bakal dikirim via email setelah dia balik nanti. Dia mahasiswi jurusan Economics and Foreign Languages, bahasa ibunya Rusia dan dia bisa bahasa Inggris, Prancis, Jerman, satu lagi saya lupa. Denger saya mau ke Hangzhou, dia cerita bahwa dia baru aja dari Hangzhou dan nyaranin saya untuk nonton pertunjukan air mancur yang saya ga sempet nonton karena kelaparan dan pertunjukannya mulai jam 7 malam. Di Shanghai, dia nyaranin saya ke Yuyan Garden dan Shanghai Museum yang dia udah kunjungin dan menurut dia bagus. Sebenarnya ini adalah kali kedua dia ke Cina dan kesannya setelah tinggal bersama teman Cinanya adalah dia merasa sedih orang-orang stuck di Cina karena ga punya akses untuk melihat dunia luar. Ga seperti di negaranya, dia bisa ke negara manapun di Eropa tanpa visa, dan di Eropa ada berbagai bentuk pertukaran pelajar yang memungkinkan mereka untuk belajar di luar negeri. Menurut saya kemudahan traveling di Eropa mungkin karena kondisi negara-negara di Eropa secara umum merata dan ga ada negara yang berkonflik. Saya sendiri merasa beruntung Indonesia punya akses ke 11 negara di Asia tanpa visa. Mudah-mudahan ke depannya ada lebih banyak lagi negara yang bisa diakses tanpa memerlukan visa.

Karena dia udah jalan seharian dan saya juga udah cape, akhirnya kita jalan ke Nanjing Road dan nganter dia ke stasiun MRT untuk pulang ke hotelnya. Tadinya saya sempet pengen ikut dia pergi ke Shanghai Zoo besoknya, tapi berhubung tiket masuknya 100RMB, ga jadi deh. Sesuai sarannya, sebagai gantinya saya pergi ke Shanghai Museum yang ternyata memang oke banget. Cuma pemeriksaannya ketat banget. Saya diminta minum air yang ada dalam termos di backpack saya karena khawatir itu cairan eksplosif. Tapi mereka menyediakan banyak loker gratis untuk penitipan barang, jadi saya ga pengkor gara-gara manggul backpack.


Yep, kalo diinget-inget, saya emang beruntung karena pejalanan saya diwarnai perkenalan dengan banyak orang, meskipun ga semuanya betul-betul jadi temen saya sekarang. Tapi saya sadar betul kemungkinan perjalanan saya bakal boring itu gede banget. Dan ga tertutup kemungkinan solo trip berikutnya bakal plain, but that's the art of traveling, right?  Bukan berarti traveling bareng temen less interesting, kalo emang waktu, uang dan destinationnya klop, kenapa ga? Tapi saya tetep merasa traveling sendirian lebih simple, and i love simplicity.

Comments

Popular posts from this blog

IELTS Writing Task 1

Study in Fuzhou - Fujian Normal University

Contoh Soal dan Essay IELTS Writing Task 2

IELTS Writing Task 2

Travel in China : Shanghai 上海 - Hangzhou 杭州

Romantic Doctor, Teacher Kim - Classy Korean Drama

Maling Jemuran

Penipuan Derawan Trip oleh @derawan_island

Travel in China : Xiamen 厦门

Berlatih IELTS Secara Otodidak